RSS

Ka’bah

07 Apr

Siapakah yang membangun Kabah? Mari kita pelajari asal usul Kabah dari Hadits berikut:

14.62/1478. Telah menceritakan kepada kami Musa telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki (kota Makkah) pada tahun pembebasan dari Kada’. Dan ‘Urwah memasukinya melalui keduanya dan kebanyakan dia memasukinya dari Kada’ karena ini tempat yang paling dekat dengan rumahnya. Abu ‘Abdullah Al Bukhariy berkata: Kuda’ dan Kadan adalah dua tempat yang berbeda.

14.63/1479. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim berkata, telah mengabarkan kepada saya Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Amru bin Dinar berkata; Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhua berkata: Ketika Ka’bah dibangun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ‘Abbas mengangkut bebatuan, Saat itu Al ‘Abbas berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Ikatlah kain sarungmu pada lehermu. Tiba-tiba Beliau tersungkur ke tanah lalu kedua matanya terbelalak menengadah ke arah langit. Lalu Beliau berkata: Berikanlah kain sarungku. Kemudian Beliau mengikatnya kembali dengan kuat.

14.64/1480. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah bahwa ‘Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar mengabarkan kepada ‘Abdullah bin ‘Umar dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhum, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: Tidakkah kamu tahu bahwa kaummu ketika membangun Ka’bah mereka menggesernya dari pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam?. Aku berkata: Wahai Rasulullah, mengapa anda tidak mengembalikannya ke posisi yang dibuat Nabi Ibrahim Aalaihissalam?. Beliau menjawab: Seandainya tidak mempertimbangkan masa-masa kaummu yang masih lekat dengan kekufuran tentu aku sudah melakukannya. Maka ‘Abdullah radliallahu ‘anhu berkata: Sekalipun ‘Aisyah radliallahu ‘anha mendengar hal ini langsung dari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, namun aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan ‘istilam’ terhadap dua rukun yang menghadap (Hajar Aswad) ini, selain memang Baitullah ini tidak disempurnakan pembangunannya di atas pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim alaihissalam.

14.66/1482. Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepadaku: Seandainya bukan karena zaman kaummu yang masih lekat dengan kekufuran tentu aku sudah membongkar Ka’bah lalu aku bangun kembali diatas pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam karena orang-orang Quraisy telah mengurangi pembangunannya dan aku akan buatkan pintu (dari belakangnya) . Berkata, Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hisyam: istilah Khalfan maksudnya adalah pintu.

14.67/1483. Telah menceritakan kepada kami Bayan bin ‘Amru telah menceritakan kepada kami Yazid telah menceritakan kepada kami Jarir bin hazim telah menceritakan kepada kami Yazid bin Ruman dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepadanya: Seandainya bukan karena keberadaan kaummu yang masih lekat dengan kejahiliyahan, tentu aku sudah perintahkan agar Ka’bah Baitulloh dirabohkan lalu aku masukkan ke dalamnya apa yang sudah dikeluarkan darinya dan aku akan jadikan (pintunya yang ada sekarang) rata dengan permukaan tanah, lalu aku buat pintu timur dan pintu barat dengan begitu aku membangunya diatas pondasi yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam inilah yang kemudian dijadikan alasan oleh ‘Abdullah bin Az Zubair untuk merabohkannya. Berkata, Yazid: Aku melihat Ibnu Zubair ketika merabohkannya lalu membangunnya kembali, dia memasukkan sebagian Hijir Isma’il dan aku melihat pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim laihissalam berupa bebatuan menyerupai punuk-punuk unta. Jarir berkata: Aku bertanya kepadanya: Dimana posisinya?. Dia berkata: Akan kutunjukkan kepadamu sekarang. Maka aku bersamanya masuk ke dalam Al Hijir lalu dia menunjuk pada suatu tempat seraya berkata; Inilah posisinya. Jarir berkata: Kemudian aku mengukur jaraknya dari Al Hijir ternyata kira-kira kurang lebih enam hasta.

14.75/1491. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Washil Al Ahdab dari Abu Wa’il berkata; Aku menemui Syaibah . Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Qabishah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Washil dari Abu Wa’il berkata: Aku duduk bersama Syaibah diatas sebuah kursi di dalam Ka’bah, lalu dia berkata: Ini adalah tempat duduknya ‘Umar radliallahu ‘anhu yang dia berkata: Sungguh aku berusaha keras untuk tidak meninggalkan benda kuning (emas) ataupun benda putih (perak) kecuali aku akan membagikannya. Aku katakan: Kedua sahabatmu (Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu dan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam) tidak pernah melakukan hal itu!. ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata: Mereka berdua adalah dua orang yang aku ikuti.

14.85/1501. Telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Salam telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’man telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Nafi’ dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melaksanakan sa’iy dengan berlari-lari kecil pada tiga putaran dan berjalan biasa pada empat putaran sisanya dalam pelaksanaan hajji maupun ‘umrah. Hadits ini diikuti pula oleh Al Laits, dia berkata; telah menceritakan kepada saya Katsir bin Farqad dari Nafi’ dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.

14.85/1501. Telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Salam telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’man telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Nafi’ dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melaksanakan sa’iy dengan berlari-lari kecil pada tiga putaran dan berjalan biasa pada empat putaran sisanya dalam pelaksanaan hajji maupun ‘umrah. Hadits ini diikuti pula oleh Al Laits, dia berkata; telah menceritakan kepada saya Katsir bin Farqad dari Nafi’ dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.

14.87/1503. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma berkata: Tidak pernah aku meninggalkan dari menyentuh (mengusap) dua rukun ini (yang ada Al Hajar Al Aswad) baik dalam keadaan sulit maupun mudah semenjak aku melihat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengusap keduanya. Aku bertanya klepada Nafi’: Apakah Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berjalan diantara dua rukun itu?. Dia berkata: Dia berjalan agar dapat lebih mudah untuk mengusapnya.

14.123/1539. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru bin Dinar dari ‘Atho’ dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melaksanakan thawaf di Ka’bah Baitullah dan sa’iy antara bukit Shafaa dan Marwah untuk menunjukkan kepada kaum musyrikin kekuatan Beliau. Al Humaidiy menambahkan telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami ‘Amru; aku mendengar ‘Atho’ dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma seperti ini juga.

14.156/1572. Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq aku mendengar ‘Amru bin Maimun berkata: Aku menyaksikan ‘Umar radliallahu ‘anhu shalat Shubuh di Jama’ (Muzdalifah) lalu wuquf disana kemudian berkata: Sesungguhnya orang-orang musyrik tidak bertolak hingga terbit matahari dan mereka berkata: Terbitkanlah (matahari), wahai gunung Tsabir. Dan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam kemudian menyelisih mereka maka Beliau bertolak sebelum matahari terbit.

Dari Hadits di atas, kita belajar bahwa Kabah dibangun oleh kaum musyrik Quarisy. Setelah penaklukan Mekah, Muhammad dan geng banditnya membangun Kabah dan mengambil ritual musyrik yang menyembah si batu hitam dengan membuat beberapa perubahan dalam ritual tersebut. Perhatikan Hadits no. 1572, “Dan Nabi kemudian menyelisih mereka (musyrik) dan bertolak sebelum matahari terbit.” Ini bukan hal baru untuk yang tahu bahwa Muhammad sering menyelisih dengan iman Yahudi dan Nasrani karena Muhammad melakukan ini karena kebodohannya dan ketidaksengajaan.

Dari Hadits di atas, kita juga tahu bahwa Muhammad takut untuk menghancurkan Kabah karena takut ditolak oleh kaum musyrik yang dipaksa masuk Islam. Inilah mengapa ia berkata, “Seandainya bukan karena keberadaan kaummu yang masih lekat dengan kejahiliyahan, tentu aku sudah perintahkan agar Ka’bah Baitulloh dirabohkan.” Kita juga tahu kalau Muhammad dan Abu Bakar menyimpan emas dan perak di Kabah untuk mereka sendiri.

http://www.indoquran.com/

14.101/1517. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits berkata, Yunus berkata, Ibnu Syihab telah menceritakan kepada saya Humaid bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu mengabarkan kepadanya bahwa Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu mengutusnya dalam urusan yang dia diperuntahkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sebelum hajji wada’ pada hari Nahar dalam satu rambongan kecil untuk mengumumkan kepada manusia bahwa; Setelah tahun ini tidak boleh seorang musyrikpun ang melaksanakan hajji dan tidak boleh thawaf di Ka’bah dengan telanjang.

Hadits di atas adalah bukti bahwa Muslim yang menaklukan Mekah telah mengubah kuil kaum musyrik Kabah (namanya diambil dari dewi Hittite Kubaba, i.e yang berarti kotak) dan juga mengadopsi ritual kaum musyrik yang tawaf di sekeliling Kabah. Kita juga mengetahui bahwa kaum muysrik di Mekah biasanya melakukan tawaf dengan telanjang dan itulah alasannya Muhammad menghapuskan ‘kode berpakaian’ tersebut.

14.86/1502. Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abu Maryam telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far bin Abu Katsir berkata, telah mengabarkan kepada saya Zaid bin Aslam dari bapaknya bahwa ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu berkata kepada rukun (Al Hajar AL Aswad): Sungguh aku mengetahui bahwa kamu hanyalah batu yang tidak bisa mendatangkan madharat maupun manfa’at. Namun kalau bukan karena aku telah melihat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menciummu tentu aku tidak akan menciummu. Maka dia menciumnya lalu berkata: Kenapa pula kita harus berlari-lari kecil?. Sungguh kami telah menyaksikan orang-orang musyrikin melakukannya namun kemudian mereka dibinasakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Dia berkata: Berlari-lari kecil ini adalah sesuatu sunnah yang telah dikerjakan oleh Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan kami tidak suka bila meninggalkannya.

Inilah bukti lain lagi bahwa ritual kaum muslim sebenarnya adalah ritual kaum musyrik. Islam hanya mencontek saja. Bahkan Zaid sebenarnya tergolong cukup ‘pintar’ (atau bodoh?) karena dia menyadari mencium batu tiada guna atau manfaat dan berlari kecil memutari Kabah seperti musyrik, namun kebodohannya dia adalah dia tetap melakukannya hanya karena Muhammad melakukannya. Padahal jelas-jelas Muhammad dari suku Quarishy, jelaslah ia mengadopsi ritual musyrik sukunya sendiri! Sadarlah muslimin! Kalian telah ditipu dengan ritual kaum musyrik arab oleh Muhammad!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2011 in Tentang Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: