RSS

Nikah

18 Sep

Islam: Agama tanpa Hakikat

ha·ki·kat n 1 intisari atau dasar; 2 kenyataan yg sebenarnya (sesungguhnya);

Segala sesuatu mempunyai kulit dan hakikat. Tubuh kita adalah kulit kita sementara roh kita adalah hakikat kita. Bagaimana dengan agama? Agama pun demikian. Setiap agama mempunyai kulit yaitu berupa buku suci dan ritual-ritual yang adalah bagian dari kepercayaan mereka. Tentu dibalik ini semua harus ada hakikatnya, jika tidak berarti ada yang salah.

Pernikahan
Apa hakikat pernikahan dalam Islam? Sebenarnya tidak ada tujuan yang begitu mulia dari perkawinan Islam. Ini sangat terlihat jelas dari ucapan pada saat Ijab Kabul:

Saya nikahkan engkau, xxxx <nama calon mempelai pria> bin yyyy <nama ayah calon mempelai pria> dengan ananda xxxx <nama calon mempelai wanita> binti yyyy <nama ayah calon mempelai wanita>, dengan mas kawin zzzz <semisal: perhiasan emas 18 karat seberat 20 gram> dibayar <tunai/hutang>

Yang segera dijawab oleh mempelai pria:

Saya terima nikahnya xxxx <nama calon mempelai wanita> binti yyyy <nama ayah calon mempelai wanita> dengan mas kawin tersebut dibayar <tunai/hutang>

Ijab Kabul sebenarnya tidak hanya dikenal dalam upacara akad nikah tetapi juga jual beli. Memang dalam Islam, pernikahan tidak pelaknya hanyalah urusan jual beli. Si pengantin pria membayar bapaknya pengantin wanita untuk servis seks wanita tersebut secara halal. Oleh karena itu tidak ditemukan adanya janji setia sampai mati, hanya perkara diterima dengan lunas/hutang.

Rupanya wanita hanya dianggap komoditi yang bisa dijualbelikan. Karena itu juga poligami dianjurkan dan monogami hanya dilakukan jika merasa tidak bisa adil (kurang mampu secara finansial) (Qs 4:3). Oleh konsep pernikahan semacam inilah, muncul pernikahan mutah (kawin kontrak sementara). Ya, pernikahan hanyalah tameng atau sarana untuk melegalkan seks. Jadi hakikat pernikahan untuk Islam adalah seks. Itulah kenapa Aloh mengiming-imingi seks dengan mengawini para pria muslim dengan bidadari yang tetap perawan berapa kalipun diperawani.

Dalam Alquran, wanita dianggap sebagai lahan yang siap digarap kapan saja pria itu mau, wanita tidak boleh menolak (2:223). Oleh karena itu suami diperbolehkan memukul istri jika nusyuznya diragukan (4:34). Memang wanita digambarkan seperti komodoti saja di Alquran.

Selain dari Alquran, hakikat pernikahan dalam Islam pun bisa terlihat juga dari segi (linguistik) bahasanya Alquran, bahasa arab.

Dari Kamus Istilah2 Qur’an dan Artinya, Sheik Mousa Ben Mohammed Al Kaleeby, Cairo, Maktabat Al Adab, 2002:
Definisi “Nikah” adalah “penetration” : penembusan sesuatu benda oleh benda lainnya.
Contohnya adalah benih (N) tanah atau rasa kantuk (N) mata. Kata ini juga berarti dua benda saling berbelit. Contohnya seperti pohon (N) satu sama lain, berarti pohon2 itu saling membelit.

Dari Kitab Al Nikah. Komentar Imam Ahmed Ben Ali Ben Hagar Al Askalani, Beirut, Dar Al Balagha, 1986 :
“Nikah” berarti “merengkuh atau menembus”. Jika dilafalkan “Nokh” ini berarti vagina wanita. Kata ini hanya digunakan dalam konteks “melakukan hubungan seksual.” Jika kata ini dihubungkan dalam pernikahan, maka ini berarti seks adalah kewajiban dalam pernikahan. Al Fassi berkata, “ Jika dikatakan seorang pria (N) seorang wanita, ini berarti pria ini menikahi sang wanita, dan jika dikatakan seorang pria (N) istrinya, ini berarti dia berhubungan seks dengan istrinya.”

Kata ini juga dapat digunakan secara metaforis seperti pengertian:
air hujan (N) tanah, atau rasa kantuk (N) mata, atau benih (N) tanah, atau kerikil (N) tapak kaki unta. Jika digunakan dalam konteks pernikahan, ini berarti hubungan seksual adalah tujuan pernikahan. Adalah wajib dalam perkawinan untuk “mencicipi madu” (pernyataan Islam yang berarti bersetubuh).

Begitulah kata ini umumnya digunakan dalam Qur’an kecuali di ayat yang berbunyi, “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk (N)” Sura 4:6. Di ayat ini, kata “Nikah” berhubungan dengan usia pubertas. Sekolah2 hukum Shafia dan Hanafi menggunakan kata Nikah untuk menjelaskan bahwa hubungan seksual telah terjadi. Dan jika digunakan dalam kata kiasan ini berarti perkawinan. Alasan cara penggunaan yang berbeda-beda ini adalah karena penggunaan kata “bersetubuh” bisa menyinggung perasaan, jadi kata kiasan digunakan untuk menggantikannya.

Kesimpulan
Ada kata Arab yang tepat untuk menerjemahkan kata “PERKAWINAN (suami istri)”, yakni “ZAWAQ”. Akan tetapi kata “Nikah”, yang sering dipakai secara umum dalam terjemahan Qur’an yang berarti pernikahan, sebenarnya mengandung arti yang sama sekali berbeda. “Nikah” menyiratkan tekanan hubungan seksual saja antara pria dan wanita. Kata ini tidak sama artinya dengan perkawinan suami istri dan bahkan merendahkan makna hubungan perkawinan suami istri.

Ya, hakikatnya tetap sama dengan hakikat pernikahan menurut Alquran, yaitu SEKS di mana wanita adalah komoditi yang diperjualbelikan.

Tapi apakah benar itu hakikat pernikahan yang sejati? Sama sekali TIDAK. Seks terlalu rendah untuk menjadi hakikat dari pernikahan. Puji Tuhan banyak umat Muslim yang tidak mengikuti pola pikir Alquran sehingga mereka melakukan pernikahan bukan semata-mata untuk seks. Pernikahan adalah hal yang sakral dan bersifat seumur hidup karena pernikahan adalah penyatuan 2 insan menjadi 1 (Matius 19:5). Ya, DUA menjadi SATU, bukan 3, 4, atau 5, tapi 2 menjadi 1 (monogami). Pernikahan adalah sebuah perjanjian tapi bukan perjanjian jual-beli seperti dalam Islam, tapi perjanjian kasih.

Ada makna yang bahkan lebih mendalam yang Tuhan ingin sampaikan lewat pernikahan. Pernikahan adalah perlambang hubungan Tuhan dengan umat-Nya (Wahyu 21:9). Ya, Tuhan sangat ingin dekat kepada umat-Nya seperti layaknya suami istri, bukan secara fisik (seks) seperti yang mungkin ada di dalam otak Muslim tetapi kedekatan secara ROH. Suami Istri yang benar biasanya sampai pada taraf mereka bisa mengerti satu sama lain bahkan tanpa berbicara. Inilah kedekatan yang Tuhan mau. Tuhan ingin kita belajar mengerti kehendak-Nya. Oleh karena itulah Dia memberikan Roh-Nya untuk membantu kita untuk semakin mengerti Dia. Roh-Nya yang berbicara kepada kita, tidak melulu lewat suara yang bisa terdengar dengan telinga jasmani, terutama lewat suara di kedalaman batin. Jadi kita mengerti Tuhan “tanpa mendengar-Nya” percis seperti suami istri yang benar-benar menjadi satu.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menikah, janganlah kita merusak lambang hubungan Tuhan dengan umat-Nya. Tuhan telah menunjukkan cinta-Nya pada umat-Nya hingga rela menyerahkan nyawa-Nya sebagai manusia. Sebagai suami, para lelaki dituntut untuk dapat menunjukkan kasih yang rela berkorban demi istri sama seperti Tuhan rela berkorban untuk umat (Efesus 5:25). Dan sebagai umat, kita dituntut untuk taat pada Tuhan. Demikian pula istri haruslah taat kepada suami yang rela berkorban untuknya (Efesus 5:22). Ketaatan istri harus diimbangi dengan cinta kasih dari suami. Suami tidak boleh semena-mena dan istri janganlah melawan suami. Ketaatan istri pun bukan karena dipaksa tapi karena kerelaan istri untuk taat pada suami yang mau berkorban. Suami pun diminta untuk mengasihi istri seperti mengasihi dirinya sendiri (Efesus 5:28) dan tidak ada orang yang sehat rohaninya mau memukul dirinya sendiri. Jelas memukul istri bukanlah suatu pilihan dalam pernikahan yang kudus, tidak seperti yang dianjurkan Alquran.

Jadi hakikat pernikahan adalah perjanjian KASIH antara DUA insan menjadi satu dan lambang hubungan Tuhan dan umat-Nya. Dua insan berpadu kasih, sang suami menunjukkan kasih dengan kerelaan berkorban sementara sang istri menunjukkan kasih dengan kerelaan untuk taat. Maukah kamu masuk ke dalam hakikat pernikahan yang sesungguhnya? Maukah kamu mengenal Tuhan secara spiritual dan mendalam seperti suami istri mengenal satu sama lainnya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Tentang Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: