RSS

Qiblat

18 Sep

Islam: Agama tanpa Hakikat

ha·ki·kat n 1 intisari atau dasar; 2 kenyataan yg sebenarnya (sesungguhnya);

Segala sesuatu mempunyai kulit dan hakikat. Tubuh kita adalah kulit kita sementara roh kita adalah hakikat kita. Bagaimana dengan agama? Agama pun demikian. Setiap agama mempunyai kulit yaitu berupa buku suci dan ritual-ritual yang adalah bagian dari kepercayaan mereka. Tentu dibalik ini semua harus ada hakikatnya, jika tidak berarti ada yang salah.

Qibla
Untuk apa Qibla dalam Islam? Apa hakikatnya? Muslim pun langsung beralasan sebagai pemersatu arah. Apanya hubungannya satu arah dengan doa? Apakah kalau arahnya beda doanya tidak sampai? Alasan lainnya karena perintah Aloh. Tapi kenapa Aloh memerintahkan demikian? Ketika Tuhan menyuruh sunat Dia menyatakan hakikat sunat sebagai lambang perjanjian. Kalau begitu apakah hakikatnya Qibla? Aloh (alias Muhammad) memang tidak mengerti perkara yang hakiki maka perintah mereka pun tanpa hakikat. Orang Yahudi memang sempat memiliki Qibla. Lalu apa arti Qibla orang Yahudi?

Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN, sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN. (1 Raja-Raja 8:11)

Rupanya ini hakikat Qibla bagi orang Yahudi karena Tuhan pernah bermanifestasi di Bait Suci. Jadi bagi orang Yahudi, ketika mereka mengarah ke sana, mereka sedang menyembah menghadap ke arah di mana Tuhan pernah bermanifestasi menunjukkan kemuliaan-Nya! Lagi-lagi Muhammad yang tidak mengerti perkara ini karena kebodohannya sendiri, asal ikut-ikutan orang Yahudi saja. Muhammad berharap dengan berqibla sama dengan orang Yahudi, maka mereka mau menerima dirinya sebagai nabi Tuhan. Tapi kenyataan pahit, setelah 16 bulan orang Yahudi tetap menolak dia. Ya, Muhammad yang bodoh itu tidak mengerti hakikat dari Qibla. Tidak heran Muhammad bisa seenak-enaknya mengubah Qibla apalagi setelah ditolak oleh orang Yahudi dan Muhammad pun menurunkan ayat di bawah ini:

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan KAMU KE KIBLAT YANG KAMU SUKAI. (2:144)

Muhammad gagal untuk melihat hakikat dari Qibla, sehingga dia pikir dia bisa mengubah Qibla seenakudelnya.

Hakikat dari Qibla adalah menghadap ke tempat Tuhan berada. Muhammad pun menetapkan Kabaah sebagai Qibla. Memang benar disitulah tuhannya Muhammad berada dalam rupa batu hitam (hajar aswad). Namun, bukan Qibla yang fisik yang penting. Sembahlah Bapa kita yang di Surga. Ber-qibla-lah secara rohani ke surga.

Sumber:
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Tentang Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: