RSS

Siapakah Yesus?

18 Sep
2000 tahun yang lalu, seorang manusia berjalan di bumi. Dia bukanlah manusia biasa. Hidup-Nya berdampak pada jutaan dan jutaan orang. Tetapi tidak lama setelah kemunculan gerakan Yesus atau yang dikenal sebagai sebagai “Jalan Satu-Satunya”, banyak pandangan tentang siapa Yesus sebenarnya bermunculan di mana-mana. Pada dasarnya ada 7 pandangan terbesar tentang siapa Yesus Kristus yang adalah sebagai berikut:

1. Yahudi: Seorang penghujat
2. Ateisme: Seorang guru moral yang baik
3. Islam: Seorang nabi biasa, Rasul Allah
4. Saksi Jehova: Seorang malaikat
5. Mormonisme: Dewa yang lebih rendah yang menjadi manusia dan kemudian menjadi dewa
6. Katolik: Berdasarkan doktrin Anak Tuhan dan Juruselamat. Namun, dalam praktiknya, Yesus lebih dikenal sebagai Putra Maria dan Maria adalah Bunda Tuhan. Maria juga menjadi sama penting dengan, malahan bisa lebih penting daripada, Yesus karena Maria dianggap perantara antara umat dengan Yesus.
7. Kristen: Juruselamat umat manusia, Raja Surga, dan Anak Tuhan yang hidup.

Jadi, ada begitu banyak pandangan tentang siapa Yesus … tapi mana yang benar? Karena kita semua setuju bahwa Yesus sebagai manusia memang pernah hidup di bumi, maka kita harus meninjau kata-kata-Nya sendiri dalam kaitannya dengan apa yang Dia katakan tentang diri-Nya dari sumber yang otentik.

Aku dan Bapa adalah Satu. (Yohanes 10:30) 

Sanggahan: Itu hanya berbicara tentang kesatuan umat Tuhan dengan Tuhan sendiri, seperti dalam Yohanes 17.

Kebenaran: Jangan berhenti membaca hanya pada satu ayat. Silakan baca 3 ayat berikutnya.

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Tuhan dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Tuhan. (Yohanes 10:31-33)

Orang-orang Farisi mengerti dengan baik apa yang Yesus maksudkan dengan perkataan-Nya. Orang-orang Farisi menuduh Yesus mengklaim sebagai Tuhan namun Yesus tidak pernah mengoreksi mereka. Berikut ini satu lagi:

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham ada, AKU ADALAH. (Yohanes 8:58) 

Sanggahan: Yesus adalah malaikat yang diciptakan sebelum Abraham.

Kebenaran: Perhatikan! Tata bahasa yang benar adalah “sebelum Abraham lahir, Aku telah ada” tetapi Yesus tidak berkata demikian. Yesus secara harafiah berkata “AKU ADALAH” (present tense dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani, terjemahan LAI salah) yang secara tata bahasa adalah salah. Jadi, antara Yesus lemah dalam tata bahasa atau Dia ingin menyampaikan pesan tertentu.

Firman Tuhan kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKU ADALAH telah mengutus aku kepadamu.” (Keluaran 3:14) 

Orang-orang Farisi tahu persis pesan yang Yesus mau sampaikan. Yesus mengklaim bahwa Dia adalah AKU ADALAH atau Tuhan yang berbicara kepada Musa. Dan jika kita membaca ayat berikutnya, kita akan melihat reaksi dari orang-orang Farisi untuk klaim Yesus sebagai AKU ADALAH:

Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Suci. (Yohanes 8:59) 

Lagi-lagi, orang-orang Farisi berusaha melempari Yesus dengan batu untuk penghujatan, mengklaim sebagai Tuhan. Hal ini bahkan lebih jelas jika Anda membaca ayat berikut:

Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Tuhan. (Yohanes 5:18)

Jadi, jika orang-orang Farisi 2000 tahun yang lalu paham dengan sempurna klaim Yesus sebagai Tuhan, mengapa orang-orang yang konon katanya berpendidikan modern tidak bisa mengerti klaim-Nya benar? Menjadi Anak Tuhan tidak berarti Tuhan melakukan hubungan seksual dengan Maria dan memiliki seorang putra fisik. Anak Tuhan berarti memiliki sifat yang sama dengan Tuhan. Sama seperti saya memiliki sifat yang sama dengan ayah saya, kami berdua benar-benar sama-sama manusia. Jadi, Yesus sama dengan Bapa, tidak kurang tidak lebih. Dan Yesus tidak pernah sekalipun mengoreksi orang-orang Farisi. Pada kenyataannya, malahan Ia menegaskan klaim keilahian-Nya:

Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Tuhan?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa AKU ADALAH.” Lalu kata mereka: “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.” (Lukas 22:70-71)

Sekali lagi Yesus menegaskan “AKU ADALAH” dan “Anak Tuhan”. Untuk jenis penghujatan ini, menurut orang Yahudi Ia harus disalibkan. Jadi, kita tahu bahwa dari kata-kata Yesus sendiri dan orang-orang Farisi, Dia mengaku sebagai Tuhan. Tapi bagaimana dengan apa yang orang lain katakan tentang Dia?

Petrus: 
Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Tuhan yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 
(Matius 16:13-17).

Setan-setan: 
Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Tuhan.” (Markus 3:11). 

Malaikat:
Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan. (Lukas 1:35) 

Tuhan: 
lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:17) 

Jadi, dengan semua ini bukti tertulis yang banyak ini, mengapa orang masih bingung tentang keilahian-Nya? Tapi kemudian saya menyadari ada beberapa catatan tentang Yesus menjadi Tuhan yang ‘mengganggu’. Sebagai contoh:

Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. (Yohanes 14:28)

Bagaimana bisa Bapa lebih besar dari Yesus jika mereka adalah Satu Tuhan? Apakah ini berarti Mormonisme benar? Bahwa Yesus sebenarnya dewa yang lebih rendah? Tidak! Masalahnya dengan banyak orang, mereka tampaknya menganggap Yesus sebagai manusia atau Tuhan atau sesuatu di antara dua itu, yaitu malaikat. Tapi mereka gagal untuk memahami bahwa Yesus sebenarnya adalah KEDUA-DUANYA Manusia (Anak Manusia) dan Tuhan (Anak Tuhan). Jadi, kita harus sangat berhati-hati ketika kita membaca tentang Yesus. Kita perlu memahami apakah itu merujuk kepada-Nya sebagai Anak Manusia atau Anak Tuhan.

…sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. (Yohanes 5:19) 

Kita harus memahami bahwa Yesus adalah sepenuhnya Tuhan (Dia melakukan apa yang Bapa lakukan) DAN juga sepenuhnya manusia. Tapi sementara Ia di dalam daging, ketika Firman itu menjadi daging, untuk sementara Dia dibuat lebih rendah dari malaikat (Ibrani 2:9). Dan ini sebabnya mengapa Yesus mengatakan bahwa Bapa lebih besar dari Dia PADA SAAT ITU. Tentunya, Muslim akan berkata, jika Yesus adalah Tuhan, maka bagaimana bisa Ia dicobai oleh Iblis? Sekali lagi, kegagalan untuk memahami dualitas sifat Yesus akan membuat orang berpikir bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Yang benar adalah Yesus dicobai sebagai Anak Manusia, bukan sebagai Anak Tuhan.

Dan sebagai manusia, apakah Yesus pernah menyebut diri-Nya sebagai Anak Maria? Apakah Maria benar-benar ‘Bunda Tuhan’?

Maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Matius 12:47-50) 

Tidak! Maria bukanlah bunda Tuhan, Tuhan tidak memiliki ibu. Tuhan tidak diperanakkan dalam arti itu. Bahkan di kayu salib, menjelang kematian-Nya, Yesus masih tidak menyatakan Maria sebagai ibu-Nya:

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yohanes 19:26-27) 

Tetapi Yesus mengasihi Maria dan itulah sebabnya Dia mengatakan kepada Maria bahwa Yohanes adalah putranya dan Ia mengatakan kepada Yohanes bahwa Maria adalah ibunya (untuk merawatnya). Pada kenyataannya, Maria hanyalah alat yang Tuhan gunakan untuk mendatangkan Mesias. Dia hanya seorang ibu pengganti yang mengandung tubuh fisik sang Mesias. Yesus datang sebagai mediator antara Tuhan dan manusia yang telah terpisah dari Tuhan oleh karena dosa-dosa kita. Sebagaimana Ia adalah Tuhan dan Manusia, Dia adalah mediator yang sempurna. Mengapa mediator membutuhkan mediator lain, yaitu Maria?

Tidak! Yesus adalah perantara kita satu-satunya! Dia adalah mesias yang dijanjikan. Dia adalah penebus yang telah dinubuatkan oleh para nabi. Janganlah kita belajar dari doktrin buatan manusia, marilah kita belajar dari Firman Yesus Kristus dan nubuatan para nabi:

Hai umat-Ku, kamulah saksi-saksi-Ku, kamu Kupilih menjadi hamba-hamba-Ku, supaya mengenal Aku dan percaya kepada-Ku, dan mengerti bahwa Akulah Tuhan. Aku Tuhan Yang Mahaesa, tak ada tuhan lainnya sebelum dan sesudah Aku. (Yesaya 43:10) 

Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. (Yesaya 43:11) 

Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi–siapakah yang mendampingi Aku? (Yesaya 44:24) 

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Tuhan dan Firman itu adalah Tuhan. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Tuhan. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yohanes 1:1-3,14)

Jika Anda mengakui Yesus adalah Kristus (Al-Masih) yang berarti Mesias yang dinubuatkan, satu-satunya Juruselamat, maka Anda HARUS mengakui Yesus sebagai Tuhan yang hidup. Yesus bukan salah satu dewa, Dia bukanlah seorang malaikat, Dia bukan pula manusia biasa, Dia adalah Tuhan Sang Pencipta. Jika Anda tidak percaya demikian, maka iman Anda dalam kontradiksi. Dan itu hanya berarti satu hal: Anda telah tertipu.

Seperti Anda lihat sendiri, ada begitu banyak usaha untuk mengecilkan Yesus Kristus. Mengapa ini? Jawabannya benar-benar sederhana karena Iblis tidak ingin orang tahu kebenaran. Kita telah melihat kebohongan Iblis untuk merendahkan Yesus, dari, paling jelas, agama Yahudi, ke, yang paling halus Katolik. Ini semua adalah upaya Iblis untuk mengalihkan kita dari keselamatan melalui pengenalan akan Yesus Kristus. Iblis tahu bahwa kita diselamatkan oleh iman kita kepada Tuhan, dengan mengenal Dia secara pribadi. Jadi Iblis mencoba untuk menutupi atau setidaknya mengaburkan kebenaran, sehingga kita tidak bisa mengenal Yesus dengan baik dan karenanya kehilangan keselamatan kita. Sekarang Anda mungkin bertanya lagi, “Siapakah Yesus?”

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6) 

Apakah Anda sekarang mau mengenal Tuhan penyelamat Anda? Ini bukan undangan untuk masuk suatu agama. Ini adalah undangan untuk keselamatan dan hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Terakhir, saya ingin menutup artikel ini dengan ungkapan terkenal oleh C.S Lewis:

Seseorang yang cuma manusia biasa dan mengatakan hal-hal yang Yesus katakan, bukanlah seorang guru moral yang agung. Antara Dia gila — setaraf dengan seseorang yang mengatakan ia adalah telur rebus — atau Dia adalah Iblis dari neraka. Anda harus membuat pilihan. Entah orang ini dulu dan sekarang adalah Anak Tuhan atau orang gila atau bahkan yang lebih buruk lagi. Anda dapat membuat-Nya diam sebagai orang bodoh, Anda dapat meludahi Dia dan membunuh Dia sebagai Iblis, atau engkau bisa tersungkur di kaki-Nya dan menyebut Dia Tuhan dan Raja. Tapi janganlah kita datang dengan omong kosong bahwa Dia adalah guru besar kemanusiaan. Dia dengan sengaja tidak membiarkan pilihan itu terbuka untuk kita.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2011 in Tentang Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: