RSS

Terorisme

08 Okt

Satu bom lagi meledak!!!

Terorisme menjadi suatu hal yang tidak asing lagi untuk negri tercinta kita ini, Indonesia. Para teroris ini mengaku sebagai Mujahidin yang menginterpretasikan Jihad dengan memerangi para kafir dengan pemaksaan, kekerasan dan bahkan pembunuhan (massal). Begitu banyak interpretasi Jihad di luar sana sehingga umat Muslim sering kali bingung dengan arti Jihad yang benar. Sebenarnya siapakah yang lebih berhak untuk menentukan arti Jihad? Tentu hanya sang nabi mulia Muhammad SAW, rasullulah, junjungan umat Muslim saja yang berhak menentukan dan memberikan Sunnah akan Jihad yang sebenarnya. Oleh karena itu penting untuk kita membaca tidak hanya Alquran & Hadits, tetapi juga riwayat hidup sang nabi untuk lebih mengerti Islam yang sesungguhnya.

Kata Jihad ( جهاد ) sendiri berarti “berjuang”, bukan berperang. Secara umum, Jihad dalam Islam berarti berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syariat Islam untuk menegakkan agama atau din Allah. Jihad sendiri secara umum terbagi menjadi 2 macam: Jihad (Qital) fi sabilillah (atau Jihad bis saif), yaitu Jihad (perjuangan) secara fisik dengan senjata melawan kekafiran untuk menegakkan agama Allah (peperangan) dan Jihad al-nafs yang berarti berjuang melawan nafsu-nafsu duniawi. Di manakah di antara dua Jihad ini yang lebih besar (Jihad al-akbar)?

Memang benar ada Hadits yang mengatakan Jihad al-nafs lebih besar daripada Jihad fi sabilillah tetapi status Hadits tersebut lemah, baik ditinjau dari sisi sanad maupun matan. Dari sisi sanad, isnaad Hadits tersebut lemah (dla’if). Al-Hafidz al-‘Iraqiy menyatakan bahwa isnad hadits ini lemah. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, Hadits tersebut adalah ucapan dari Ibrahim bin ‘Ablah, bukan ucapan sang nabi. Sementara Hadits berikut ini menegaskan bahwa Jihad fi sabilillah adalah yang paling utama:

“Diriwayatkan dari ‘Amr bin Abasah r. a. berkata bahwa ada seorang lelaki, yang berkata kepada Rasulullah saw: […] Dia (seorang lelaki) bertanya lagi: “Apakah yang dimaksud dengan jihad itu?” Beliau menjawab, “Hendaklah engkau MEMERANGI ORANG-ORANG KAFIR APABILA ENGKAU BERJUMPA DENGAN MEREKA.” Dia bertanya lagi: “Jihad mana yang paling utama?” Rasulullah saw menjawab, “Jihad orang yang MEMPERSEMBAHKAN KUDA DAN DARAHNYA.” (Al-Mundziri berkata dalam “Al-Targhib wal-Tarhib”, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnad yang shahih, yang para rawinya bisa dianggap shahih; dan juga diriwayatkan oleh al-Thabrani dan lain-lain. Sedangkan al-Haitsami (2:207) mengatakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thabrani, dengan rijal al-hadits yang shahih.).

BARANGSIAPA YANG BERPERANG supaya kalimat Allah tinggi, maka ia fii sabiilillaah (di jalan Allah).” (HR. Al-Bukhari (no. 2810, 3126), Muslim (no. 1904) dan Ahmad (IV/392, 397, 402, 405, 417) dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘ahu)

Tentu Hadits saja tidak cukup, Alquran memiliki otoritas tertinggi dalam menentukan segala sesuatu. Oleh karena itu, sangatlah perlu untuk kita membaca ayat-ayat Alquran dan dicocokan dengan Hadits. Jika tidak cocok, tentu berarti Hadits tersebut kalah kuat.

TIDAKLAH SAMA ANTARA MU’MIN YANG DUDUK (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur DENGAN ORANG-ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH DENGAN HARTA MEREKA DAN JIWANYA. ALLAH MELEBIHKAN ORANG-ORANG YANG BERJIHAD DENGAN HARTA DAN JIWANYA atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan ALLAH MELEBIHKAN ORANG-ORANG YANG BERJIHAD atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (4:95)

Keabsahan Hadits tersebut semakin diperkuat dengan ayat Alquran ini. Jelas sekali Jihad (perjuangan) yang dimaksud dalam konteks ini adalah peperangan (Qital). Selain ayat di atas, ada banyak ayat lain yang memperkuat Jihad fi sabilillah, salah satunya:

PERANGILAH ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN KEPADA ALLAH dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, SAMPAI MEREKA MEMBAYAR JIZYAH DENGAN PATUH SEDANG MEREKA DALAM KEADAAN TUNDUK.” (9:29)

Perintah memerangi orang kafir (Jihad fi sabilillah) bukanlah hal yang asing dalam Islam. Tujuan peperangan di sini bukanlah pertahanan tetapi semata-mata untuk menegakkan agama Allah dengan memaksa sebanyak-banyak orang masuk Islam. Yang tidak mau masuk Islam boleh tidak diperangi asal mereka membayar Jizyah. Mungkin istilah Jizyah ini kurang dikenal di kalangan Muslim Indonesia. Jizyah ialah pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam dari umat non-Muslim, sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka. Ini adalah tipe penjajahan tidak hanya secara keagamaan (dipaksa masuk Islam) tetapi juga secara financial (dipaksa membayar uang keamanan, bahasa awamnya: pungli). Lewat Jizyah dan rampasan peranglah nabi Muhammad dan kawananannya memperoleh nafkah. Tidak pelak lagi, peperangan erat kaitannya dengan Islam, bahkan sampai-sampai ada surat khusus dalam Alquran yang disebut surat Al-Anfal yang berarti surat RAMPASAN PERANG. Memang cara inilah yang disebut Muhammad dengan “rejekiku berada di bawah bayang-bayang tombakku” seperti tercatat dalam buku Ringkasan Shahih Bukhari Bab 88 tentang tombak oleh M. Nashiruddin Al-Albani diperkuat oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan (Universitas Al-Medina). Tidak hanya itu, perintah penyerangannya Jihad dalam Alquran pun cukup mendetail:

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka PENGGALLAH KEPALA MEREKA DAN PANCUNGLAH TIAP-TIAP UJUNG JARI MEREKA. (8:12)

Sejauh ini kita bisa melihat bahwa Jihad fi sabilillah yang secara kontekstual adalah Qital adalah Jihad al-akbar. Tujuan dari Jihad ini sendiri bukan pembelaan diri tapi demi menegakkan agama Allah sebagai satu-satunya agama. Nabi Muhammad sendiri memberikan contoh Jihad dengan iming-iming kekayaan seperti tercatat tidak hanya dalam Hadits Sahih tetapi juga riwayat nabi:

Hadits Sahih Bukhari, Volume 1, Buku 2, Nomor 24:
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar: Rasul Allah berkata, “Aku telah DIPERINTAHKAN UNTUK MEMERANGI orang-orang sampai mereka mengaku Muhammad adalah Rasul Allah, sehingga jika mereka melakukan hal itu, maka SELAMATLAH NYAWA DAN HARTA MEREKA DARIKU.”

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 582
Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah SAW mendengar bahwa Abu Sufyan bin Harb tiba dari Syam bersama kafilah dagang Quraisy yang mengangkut KEKAYAAN YANG BANYAK SEKALI MILIK ORANG-ORANG QURAISY, dan komoditi mereka.

Ketika Rasulullah SAW mendengar Abu Sufyan bin Harb tiba dari Syam, beliau mengajak-kaum Muslimin keluar. Rasulullah SAW bersabda ,”Inilah kafilah dagang Quraisy. Di dalamnya terdapat harta kekayaan mereka. Oleh karena itu, pergilah kalian kepada mereka! MUDAH-MUDAHAN ALLAH MEMBERIKAN KEKAYAAN KEPADA KALIAN“.

Ketika mendekati Hijaz, Abu Sufyan mencari-cari informasi dan bertanya kepada musafir yang ia temui, karena ia takut mendapat serangan tidak terduga dari manusia. la mendapatkan informasi dari salah seorang musafir yang berkata kepadanya, ”Sesungguhnya Muhammad telah memobilisasi sahabat-sahabatnya untuk menyerangmu dan menyerang kafilah dagangmu,”.

Sebenarnya masih banyak lagi kisah nabi Muhammad menyerang dan menjarah harta orang-orang tetapi karena keterbatasan tempat maka, cukup satu saja contohnya. Jadi dari ulasan di atas jelas kalau Islam memang menyokong aksi terorisme yang sekarang sedang marak-maraknya dilakukan oleh para Mujahidin dan Islam memang agama penjajah. Lalu apakah harta kekayaan duniawiyah saja yang menjadi iming-iming para Mujahidin ini? Sama sekali tidak. Ada hakikat yang lebih mendalam lagi dari Jihad fi sabilillah.

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu AKU TUNJUKKAN SUATU PERNIAGAAN YANG DAPAT MENYELAMATKANMU DARI AZAB YANG PEDIH? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan BERJIHAD DI JALAN ALLAH DENGAN HARTA DAN JIWAMU. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (61:10-12)

Apakah yang dimaksudkan dengan perniagaan di sini? Perniagaan di sini artinya suatu barter atau pertukaran. Para Mujahidin dijanjikan pengampunan dosa dan masuk ke dalam jannah. Tidak hanya itu saja, mereka juga akan mendapatkan bidadari-bidadari cantik siap untuk mereka setubuhi kapan saja mereka inginkan. Mungkin ada Mujahidin yang alasannya mulia, mereka dijanjikan kematian mereka akan menjadi syafaat bagi 70 orang anggota keluarga mereka. Ya, semua hadiah-hadiah ini bisa mereka dapatkan sebagai ganti nyawa mereka yang mereka jual kepada Allah SWT. Coba saudara gunakan akal sehat Anda, mengapa sosok yang dianggap Tuhan ini menawarkan hadiah dengan syarat kita harus menjual nyawa atau harta kita? Bukankah ini prilaku Iblis yang gemar memberikan sesuatu tetapi meminta nyawa kita sebagai gantinya? Apakah benar Allah adalah Tuhan?

Saudara, yang Tuhan mau bukan nyawa kita. Yang Dia mau adalah hati kita. Tuhan bukanlah sosok yang menginginkan kita menjual nyawa kepada-Nya. Toh nyawa kita sudah menjadi milik-Nya. Tetapi hati kita, itu yang Tuhan mau karena Tuhan telah memberikan kita hati yang bebas memilih dan Dia tidak akan memaksa kita untuk memberikan hati kita kepada-Nya. Tuhan yang benar adalah Tuhan yang justru memberikan nyawa-Nya untuk menebus kita. Allah ingin Anda mati untuk dia tetapi Yesus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk Anda. Yesus adalah pribadi yang mengasihi Anda. Allah tidak mengasihi Anda, dia hanya ingin disembah saja dan bahkan menginginkan nyawa Anda. Allah bahkan mengancam mereka yang tidak mau berperang akan diazab (9:39). Apakah ini gambaran Tuhan yang benar? Tidak saudara, kita adalah lebih dari sekedar barang yang diperjualbelikan. Tuhan mengasihi kita dengan segenap keberadaan-Nya karena itulah Yesus sampai rela menunjukkan kasih yang paling dahsyat dengan turun sebagai manusia dan menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 8, 2011 in Tentang Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: